Seni Tari
secara umum merupakan hasil ekspresi yang diungkapkan melalui gerak. Namun
demikian beberapa para ahli menyebutkan tari
adalah bentuk pernyataan imajinasi yang dituangkan melalui lambang gerak, ruang
dan waktu. Pernyataan lambang atau simbol dari imajinasi dan kehendak dalam
bentuk gerak tari telah mengalami distorsi atau stilasi dengan mempertimbangkan
pada keindahan dan pesan yang disampaikan. Pada akibatnya, gerak mempunyai
makna yang memberikan penjelasan maksud dan muatan tari.
Seorang pakar tari yakni Soeryobrongto mengemukakan
tentang tari yang dikutip oleh M. Jazuli, tari adalah gerak-gerak dari seluruh
anggota tubuh yang selaras dengan bunyi musik, diatur oleh irama yang sesuai
dengan maksud dan tujuan dalam tari (Jazuli, 1994). Di sisi lain Kamaladevi
menyebutkan bahwa tari sebagai suatu desakan perasaan manusia di dalam dirinya
untuk mencari ungkapan berupa gerak-gerak ritmis (Soedarsono, 1982). Hal ini dipertegas
Hawkins yang juga menyatakan bahwa tari adalah ekspresi perasaan manusia yang
diubah oleh imajinasi dan diberi bentuk oleh media gerak sehingga menjadi bentuk
gerak yang simbolis sebagai ungkapan si penciptanya (Hawkins, 1990). Demikian
pula dengan Edi Sedyawati memandang tari sebagai latihan-latihan untuk
mengembangkan kepekaan akan rasa gerak dan irama. Penekanan kepada rasa
diarahkan pada penghayatan keindahan (Edi Sedyawati, 1984).
Berdasarkan pendapat tersebut menggiring pengertian
tari pada materi gerak, ungkapan atau ekspresi perasaan dan keselarasan antara
gerak itu sendiri dengan irama. Untuk memperoleh pengertian yang lebih mendalam
mengenai hakikat tari, maka berikut ini akan diuraikan beberapa unsur dalam
tari.
UNSUR/ELEMEN DASAR TARI
Gerak
Esensi dari tari adalah gerak, tetapi struktur
gerak dalam tari itu sendiri meliputi beberapa aspek. Rudolf Van Laban
mendeskripsikan gerak menjadi beberapa bagian yaitu the body (bagian
spesifik dari gerak, misalnya gerak bagian kepala, kaki, tangan, badan), space
(ruang gerak, misalnya level, jarak/rentangan atau tingkatan gerak), time
(waktu, misalnyai durasi gerak) dan dynamics (Kualitas atau tekstur
gerak, misalnya gerak yang kuat, lemah, elastis, aksentuasi, penekanan) (Ann
Hutchinson, 1989). Untuk itu dapat
disimpulkan bahwa gerak dalam tari terdiri dari ruang, tenaga dan waktu.
Membedakan gerak tari dengan gerak lainnya maka
dapat ditinjau dari beberapa fungsi gerak yang dihasilkan oleh tubuh manusia.
Menurut fungsinya, gerak pada dasarnya dapat dibedakan antara gerak keseharian,
gerak olah raga, gerak bermain, gerak bekerja dan gerak dalam berkesenian. Tari
termasuk ke dalam gerak berkesenian, menurut
Sal Murgianto dalam F.X. Sutopo Cokrohamidjoyo, gerak dalam kesenian
termasuk gerak menari merupakan gerak yang dilakukan untuk mengungkapkan
pengalaman batin dan perasaan seseorang dengan harapan untuk mendapat tanggapan
orang lain (Sutopo Cokrohamidjoyo, 1986).
Sebagai benang merah dari penjelasan tersebut,
gerak dalam tari hakikatnya dapat dilihat dari berbagai sudut pandang yaitu
gerak itu sendiri yang mencakup ruang-tenaga-waktu,
gerak yang merupakan ekspresi atau ungkapan perasaan dan gerak yang selaras
dengan irama atau musik. Mengingat gerak dalam tari telah mengalami stilasi
ataupun distorsi dan identik pula dengan gerak-gerak yang indah, maka secara
holistik tari senantiasa berorientasi pada unsur estetis (keindahan). Perlu diketahui bahwa gerak di dalam tari adalah gerak
keseharian yang telah diberi sentuhan seni dan merupakan ekspresi jiwa manusia.
Ada dua macam gerak di dalam tari : 1). Gerak maknawi (gesture), yaitu gerak
yang mengandung arti, misalnya gerak mencangkul, gerak burung terbang, gerak
nelayan menebar jala, dan sebagainya, 2). Gerak murni, yaitu gerak yang
diciptakan hanya untuk keindahannya saja, misalnya gerak-gerak yang terdapat
dalam tari jaipongan dan gerakan yang dilakukan oleh para penari latar dan
sebagainya.
Berdasarkan
bentuk geraknya, tari dibedakan menjadi dua, yaitu tari representasional dan
tari non-representasional. Tari representasional adalah tarian yang
menggambarkan sesuatu secara jelas atau realistik, seperti tari yang
menggambarkan kehidupan dan kegiatan petani, nelayan, tari yang menggambarkan
kahidupan dan tingkah laku serta keindahan binatang. Dalam tari
representasional, meskipun gerakannya cenderung relistik tetapi gerak-gerak
tersebut telah mengalami stilisasi, atau telah diberi sentuhan seni. Sedangkan
tari non-representasional adalah tarian yang melukiskan sesuatu secara
simbilis, yang biasanya menggunakan gerak yang abstrak (tidak realistik). Yang
digolongkan ke dalam tari non-representasional antara lain tari Golek, tari
Bedaya, tari Srimpi, tari Monggawa, tari Legong Kraton dan sebagainya.
Ruang
Ruang diperlukan manusia untuk melakukan gerak
tubuhnya, sehingga semua gerak yang diungkapkan oleh manusia terbentuk sebagai
akibat perpindahan tubuh atau anggota tubuh manusia dari suatu ruang ke ruang
yang lain. Laban sendiri membagi ruang menjadi ruang pribadi dan ruang umum,
ruang pribadi adalah ruang yang langsung bersentuhan dengan tubuh si penari,
adapun batas imajinasinya adalah batas yang paling jauh yang dapat dijangkau
oleh tangan dan kakinya dalam keadaan di tempat, sedangkan uang umum adalah
ruangan di luar tubuh yang dapat dimasuki apabila terjadi gerakan perpindahan
tempat asal ke tempat lain (Laban, 1992).
Tenaga
Tenaga dibutuhkan seseorang untuk menghasilkan
gerak. Gerak dalam tari akan terlihat intensitas dan kualitas estetisnya
apabila tenaga tersebut dikeluarkan sesuai dengan cara bagaimana tenaga itu
sendiri disalurkan untuk menghasilkan gerak. Menurut Jacqueline Smith (1985)
tenagalah yang menjadi sumber (pangkal) penghasil gerak, dia akan terus
berjalan dan berhenti, sehingga akan memberikan wujud penekanan dan pengendoran
tenaga selama menari.
Hal ini berarti tenaga merupakan daya untuk dapat
menghasilkan gerak dari suatu proses pembakaran di dalam tubuh. Melalui tenaga
tersebut, maka gerak yang diungkapkan mempunyai dinamika, sehingga gerak
akan mempunyai isi atau jiwa. Yulianti
Parani (1972) menyebutkan pula bahwa aksen gerak yang berbeda dalam ikatan
ruang – tenaga – waktu melahirkan gerak yang bervariasi dan menumbuhkan kesan
dinamis dalam penataan gerak tari.
Waktu
Tari merupakan suatu kalimat gerak yang mempunyai
arti dan pesan untuk dikomunikasikan kepada orang lain. Sama halnya dengan
suatu kalimat yang terdiri atas frase-frase, maka begitu pula dengan tari yaitu
adanya frase gerak atau motif gerak. Masing-masing motif gerak dalam suatu
kalimat gerak mempunyai panjang pendek yang berbeda atau cepat lambat yang
dapat diukur dengan waktu. Jika seorang penari ingin menggerakkan tubuh ataupun
bagian tubuhnya dan berpindah dari suatu ruang gerak ke ruang gerak yang lain,
maka ini akan memerlukan waktu yang tergantung pada “ratio of speed” yaitu sejumlah waktu yang diperlukan penari untuk
bergerak dan berkaitan dengan tempo gerakan yaitu panjang pendek atau cepat
lambatnya suatu gerakan dilakukan. Jacqueline Smith juga mengatakan bahwa gerak
membutuhkan waktu dan waktu tersebut dapat bervariasi menurut durasinya.
Sedangkan Doris Humphrey menyebutkan waktu dalam pengertian ini yaitu desain
waktu adalah yang mewujudkan karena adanya apa yang disebut dengan sekuen gerak
yang dapat berakhir dalam beberapa detik atau juga merupakan tarian yang utuh.
Dengan demikian tidak ada seorang pun yang dapat
bergerak tanpa memerlukan waktu, sekalipun dalam keadaan istirahat atau
berhenti sejenak, elemen waktu akan tetap mengukur saat berhenti tersebut.
Berdasarkan uraian tersebut, maka ruang – tenaga – waktu merupakan unsur yang
saling terjalin dalam penataan gerak kaitannya dengan wujud atau bentuk tari.
Ekspresi
Ekspresi
di dalam gerak tari merupakan suatu daya ungkap dari pengalaman yang ada pada
diri seseorang untuk dikomunikasikan kepada orang lain. Pada dasarnya faktor
ekspresi ada pada setiap gerakan, sebab gerak dilakukan manusia untuk
menyatakan perasaan atau pikirannya. Tubuh merupakan cermin jiwa manusia,
dengan demikian gerak tubuh manusia merupakan ekspresi atau ungkapan dari
gerakan jiwa pribadinya, yang dapat berupa akal, kehendak dan emosi. Artinya gerak fisik adalah efek
normal pertama dari pengalaman mental atau emosional manusia. Dalam hal ini
seorang seniman yang baik akan bekerja dengan landasan tersebut.
Ekspresi
berkaitan dengan tenaga, sebab tenaga sebagai salah satu unsur gerak, merupakan
daya penggerak dari dalam diri si penari dan berperan di dalam kualitas
ekspresi yang menghasilkan suatu daya hidup atau greget dari sebuah tarian.
Greget adalah istilah dalam tari Jawa yang artinya dorongan perasaan, desakan
batin atau ekspresi jiwa seseorang dalam bentuk tari yang terkendali.
Dengan
demikian ekspresi hal yang juga esensial dalam tari untuk memancarkan kekuatan
serta pesan atau maksud yang ingin disampaikan dalam suatu bentuk tari,
sehingga dapat dimengerti orang lain sebagai suatu komunikasi yang diungkapkan
melalui gerak.
Unsur Pendukung Tari
Tari merupakan bentuk keindahan yang dinikmati
dengan rasa, keindahan hadir sebagai suatu kepuasan, kebahagiaan dan harapan
batin manusia. Kehadiran tari di hadapan penonton bukan hanya rangkaian gerak
saja, melainkan dilengkapi dengan elemen-elemen pendukung agar penampilannya
mempunyai daya tarik bagi penikmatnya.
Unsur
pendukung/pelengkap dalam tari adalah elemen atau unsur-unsur yang mendukung
pertunjukan atau pergelaran tari, antara lain : iringan tari (musik),
tema, tata rias dan tata busana, tempat
pentas atau panggung, perlengkapan atau properti tari, serta tata suara dan
tata cahaya.
a)
Iringan (musik)
Musik
dan tari merupakan dua hal yang saling berhubungan, yang tidak dapat
dipisahkan. Pada dasarnya bentuk musik iringan tari dapat dibedakan menjadi
dua, yaitu musik internal dan eksternal. Disebut musik internal dalam iringan
dalam teri tersebut bersumber atau berasal dari penarinya, seperti tepukan
tangan, nyanyian, hentakan kaki, petikan jari. Adapun yang digolongkan sebagai
musik eksternal adalah iringan tari tari yang bersumber dari luar penari,
misalnya bunyi-bunyian dari benda yang dipukul, ditiup, digesek, dipetik dan
lain-lain, serta yang berasal dari alat musik.
Fungsi
musik dalam tari dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu 1). Sebagai pengiring,
2). Sebagai pemberi suasana, 3). Sebagai ilustrasi. Fungsi musik sebagai
pengiring tari diartika sebagai peranan musik hanya untuk meniringi atau
menunjang penampilan tari, sehingga kadang tidak ikut menentukan isi tarinya.
Yang dikategorikan sebagi pengiring terdapat dalam tari Jawa misaslnya tari
golek Ayun-ayun diiringi oleh gendhing ladrang Ayun-ayun, tari golek Sri rejeki
diiringi gendhing ladrang Sri rejeki, dalam tari sunda tari kandagan diiringi
musik Bendrong – waledan, demikian pula dengan tari-tari di daerah lain seperti
tari gendhing Sriwijaya, tari Legong Lasem, Tari pasambahan dari Sumatra Barat
dan sebagainya.
Fungsi
musik sebagai pemberi suasana tari, musik ini sangat cocok bila untuk
mengiringi drama tari, meskipun tidak menutup kemungkinan untuk mengiringi tari
yang bukan drama tari. Mengapa fungsi musik sebagai pemberi suasana lebih cocok
untuk mengiringi dramatari? Sebab dalam dramatari terdapat pembagian adegan
atau mempunyai alur cerita yang masing-masing babak menggambarkan suasana yang
berbeda. Namun jika musik sebagai pemberi suasana dipakai dalam satu tarian
yang bukan dramatari, hendaknya musik senantiasa mengacu pada tema atau isi
tarinya. Sedangkan fungsi musik sebagai ilustrasi adalah tarian yang
menggunakan musik baik sebagai pengiring maupun pemberi suasana pada sat-saat
tertentu saja tergantung kebutuhan garapan tari. Dengan katan lain, musik
sebagai ilustrasi diperlukan hanya pada bagian-bagian tertentu saja dari
keseluruhan sajian tari.
b)
Tata rias dan tata busana
Dalam
satu sajian tari, tata rias merupakan hal yang amat penting, karena penonton
biasanya memperhatika wajah penari sebelum menyaksikan tariannya, untuk
mengetahui toko atau peran apa yang sedang ditarikan, kemungkinan juga untuk
mengetahui siapa penarinya.. Fungsi tata rias di dalam tari pada dasarnya
adalah mengubah karakter pribadi menjadi karakter tokoh yang dibawakan, serta
untuk menambah daya tarik panampilan.Tata rias tari dipanggung berbeda dengan
tata rias sehari-hari. Tata rias panggung biasanya lebih tebal karena jarak
antara penari dan penonton agak berjauhan. Dalam tata rias panggung lebih
menonjolkan garis-garis wajah agar terlihat lebih hidup. Sedangkan fungsi tata
busana dalam tari adalah untuk mendukungntema atau isi tarian, dan untuk
memperjelas peran dalam satu sajian tari. Tata busana di dalam tari juga
mencerminkan identitas suatu daerah yang sekaligus menunjuk pada asal tarian
tersebut. Tata busana dalam tari tidak hanya sekedar menutup tubuh
semata,melainkan harus mendukung disain ruang pada saat meneri, oleh karena itu
tata busana hendaknya mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut:
a. Nyaman dipakai dan sedap dilihat penonton.
b. Mempertimbangkan isi/tema sehingga menjadi satu kesatuan
c. Tidak mengganggu gerak sehingga nyaman dipakai oleh
penari.
d. Keharmonisan dalam pemilihan warna
c)
Tempat pentas
Apapun
bentuknya, suatu pertunjukan selalu memerlukan ruangan guna menyelenggarakan.
Ruangan tempat pertunjukan dengan sebutan pentas, dapat berupa lapangan,
pendapa, halaman pura atau gedung pertunjukan yang sering disebut dengan stage,
yang disebut dengan pentas tertutup.
Pertunjukan
tari tradisional di lingkungan rakyat biasanya dipentaskan di lapangan terbuka,
seperti bentuk pertunjukan reog Ponorogo, Jathilan, tari-tarian di daerah
pedalaman Kalimantan, Sulawesi, Papua dan sebagainya. Sedangkan di kalangan
istana di jawa biasanya tari dipertunjukkan di pendapa yaitu suatu bangunan
yang berbentuk joglo yang mempunyai 4 tiang penyangga atau saka guru. Pada
tempat pertunjukan seperti ini biasanya penonton dapat menyksikan pertunjukan
dari berbagai arah. Sedangkan tari yang dipentaskan di gedung pertunjukan hanya
dapat dilihat dari satu arah penonton saja, misalnya di aula sekolah, dan
sebagainya.








0 komentar:
Posting Komentar