h

Minggu, 19 Mei 2019

Seni Tari : Konsep, Teori Tari, Unsur-Unsur Pendukung Tari

1)      KONSEP DAN TEORI TARI


Seni Tari secara umum merupakan hasil ekspresi yang diungkapkan melalui gerak. Namun demikian beberapa para ahli menyebutkan tari adalah bentuk pernyataan imajinasi yang dituangkan melalui lambang gerak, ruang dan waktu. Pernyataan lambang atau simbol dari imajinasi dan kehendak dalam bentuk gerak tari telah mengalami distorsi atau stilasi dengan mempertimbangkan pada keindahan dan pesan yang disampaikan. Pada akibatnya, gerak mempunyai makna yang memberikan penjelasan maksud dan muatan tari.

Seorang pakar tari yakni Soeryobrongto mengemukakan tentang tari yang dikutip oleh M. Jazuli, tari adalah gerak-gerak dari seluruh anggota tubuh yang selaras dengan bunyi musik, diatur oleh irama yang sesuai dengan maksud dan tujuan dalam tari (Jazuli, 1994). Di sisi lain Kamaladevi menyebutkan bahwa tari sebagai suatu desakan perasaan manusia di dalam dirinya untuk mencari ungkapan berupa gerak-gerak ritmis  (Soedarsono, 1982). Hal ini dipertegas Hawkins yang juga menyatakan bahwa tari adalah ekspresi perasaan manusia yang diubah oleh imajinasi dan diberi bentuk oleh media gerak sehingga menjadi bentuk gerak yang simbolis sebagai ungkapan si penciptanya (Hawkins, 1990). Demikian pula dengan Edi Sedyawati memandang tari sebagai latihan-latihan untuk mengembangkan kepekaan akan rasa gerak dan irama. Penekanan kepada rasa diarahkan pada penghayatan keindahan (Edi Sedyawati, 1984). 

Berdasarkan pendapat tersebut menggiring pengertian tari pada materi gerak, ungkapan atau ekspresi perasaan dan keselarasan antara gerak itu sendiri dengan irama. Untuk memperoleh pengertian yang lebih mendalam mengenai hakikat tari, maka berikut ini akan diuraikan beberapa unsur dalam tari.

UNSUR/ELEMEN DASAR TARI

Gerak

Esensi dari tari adalah gerak, tetapi struktur gerak dalam tari itu sendiri meliputi beberapa aspek. Rudolf Van Laban mendeskripsikan gerak menjadi beberapa bagian yaitu the body (bagian spesifik dari gerak, misalnya gerak bagian kepala, kaki, tangan, badan), space (ruang gerak, misalnya level, jarak/rentangan atau tingkatan gerak), time (waktu, misalnyai durasi gerak) dan dynamics (Kualitas atau tekstur gerak, misalnya gerak yang kuat, lemah, elastis, aksentuasi, penekanan) (Ann Hutchinson, 1989).  Untuk itu dapat disimpulkan bahwa gerak dalam tari terdiri dari ruang, tenaga dan waktu.

Membedakan gerak tari dengan gerak lainnya maka dapat ditinjau dari beberapa fungsi gerak yang dihasilkan oleh tubuh manusia. Menurut fungsinya, gerak pada dasarnya dapat dibedakan antara gerak keseharian, gerak olah raga, gerak bermain, gerak bekerja dan gerak dalam berkesenian. Tari termasuk ke dalam gerak berkesenian, menurut  Sal Murgianto dalam F.X. Sutopo Cokrohamidjoyo, gerak dalam kesenian termasuk gerak menari merupakan gerak yang dilakukan untuk mengungkapkan pengalaman batin dan perasaan seseorang dengan harapan untuk mendapat tanggapan orang lain (Sutopo Cokrohamidjoyo, 1986).

Sebagai benang merah dari penjelasan tersebut, gerak dalam tari hakikatnya dapat dilihat dari berbagai sudut pandang yaitu gerak itu sendiri yang mencakup ruang-tenaga-waktu, gerak yang merupakan ekspresi atau ungkapan perasaan dan gerak yang selaras dengan irama atau musik. Mengingat gerak dalam tari telah mengalami stilasi ataupun distorsi dan identik pula dengan gerak-gerak yang indah, maka secara holistik tari senantiasa berorientasi pada unsur estetis (keindahan). Perlu diketahui bahwa gerak di dalam tari adalah gerak keseharian yang telah diberi sentuhan seni dan merupakan ekspresi jiwa manusia. Ada dua macam gerak di dalam tari : 1). Gerak maknawi (gesture), yaitu gerak yang mengandung arti, misalnya gerak mencangkul, gerak burung terbang, gerak nelayan menebar jala, dan sebagainya, 2). Gerak murni, yaitu gerak yang diciptakan hanya untuk keindahannya saja, misalnya gerak-gerak yang terdapat dalam tari jaipongan dan gerakan yang dilakukan oleh para penari latar dan sebagainya.

Berdasarkan bentuk geraknya, tari dibedakan menjadi dua, yaitu tari representasional dan tari non-representasional. Tari representasional adalah tarian yang menggambarkan sesuatu secara jelas atau realistik, seperti tari yang menggambarkan kehidupan dan kegiatan petani, nelayan, tari yang menggambarkan kahidupan dan tingkah laku serta keindahan binatang. Dalam tari representasional, meskipun gerakannya cenderung relistik tetapi gerak-gerak tersebut telah mengalami stilisasi, atau telah diberi sentuhan seni. Sedangkan tari non-representasional adalah tarian yang melukiskan sesuatu secara simbilis, yang biasanya menggunakan gerak yang abstrak (tidak realistik). Yang digolongkan ke dalam tari non-representasional antara lain tari Golek, tari Bedaya, tari Srimpi, tari Monggawa, tari Legong Kraton dan sebagainya.

Ruang
Ruang diperlukan manusia untuk melakukan gerak tubuhnya, sehingga semua gerak yang diungkapkan oleh manusia terbentuk sebagai akibat perpindahan tubuh atau anggota tubuh manusia dari suatu ruang ke ruang yang lain. Laban sendiri membagi ruang menjadi ruang pribadi dan ruang umum, ruang pribadi adalah ruang yang langsung bersentuhan dengan tubuh si penari, adapun batas imajinasinya adalah batas yang paling jauh yang dapat dijangkau oleh tangan dan kakinya dalam keadaan di tempat, sedangkan uang umum adalah ruangan di luar tubuh yang dapat dimasuki apabila terjadi gerakan perpindahan tempat asal ke tempat lain (Laban, 1992).

Tenaga
Tenaga dibutuhkan seseorang untuk menghasilkan gerak. Gerak dalam tari akan terlihat intensitas dan kualitas estetisnya apabila tenaga tersebut dikeluarkan sesuai dengan cara bagaimana tenaga itu sendiri disalurkan untuk menghasilkan gerak. Menurut Jacqueline Smith (1985) tenagalah yang menjadi sumber (pangkal) penghasil gerak, dia akan terus berjalan dan berhenti, sehingga akan memberikan wujud penekanan dan pengendoran tenaga selama menari.

Hal ini berarti tenaga merupakan daya untuk dapat menghasilkan gerak dari suatu proses pembakaran di dalam tubuh. Melalui tenaga tersebut, maka gerak yang diungkapkan mempunyai dinamika, sehingga gerak akan  mempunyai isi atau jiwa. Yulianti Parani (1972) menyebutkan pula bahwa aksen gerak yang berbeda dalam ikatan ruang – tenaga – waktu melahirkan gerak yang bervariasi dan menumbuhkan kesan dinamis dalam penataan gerak tari.

Waktu
Tari merupakan suatu kalimat gerak yang mempunyai arti dan pesan untuk dikomunikasikan kepada orang lain. Sama halnya dengan suatu kalimat yang terdiri atas frase-frase, maka begitu pula dengan tari yaitu adanya frase gerak atau motif gerak. Masing-masing motif gerak dalam suatu kalimat gerak mempunyai panjang pendek yang berbeda atau cepat lambat yang dapat diukur dengan waktu. Jika seorang penari ingin menggerakkan tubuh ataupun bagian tubuhnya dan berpindah dari suatu ruang gerak ke ruang gerak yang lain, maka ini akan memerlukan waktu yang tergantung pada “ratio of speed” yaitu sejumlah waktu yang diperlukan penari untuk bergerak dan berkaitan dengan tempo gerakan yaitu panjang pendek atau cepat lambatnya suatu gerakan dilakukan. Jacqueline Smith juga mengatakan bahwa gerak membutuhkan waktu dan waktu tersebut dapat bervariasi menurut durasinya. Sedangkan Doris Humphrey menyebutkan waktu dalam pengertian ini yaitu desain waktu adalah yang mewujudkan karena adanya apa yang disebut dengan sekuen gerak yang dapat berakhir dalam beberapa detik atau juga merupakan tarian yang utuh.

Dengan demikian tidak ada seorang pun yang dapat bergerak tanpa memerlukan waktu, sekalipun dalam keadaan istirahat atau berhenti sejenak, elemen waktu akan tetap mengukur saat berhenti tersebut. Berdasarkan uraian tersebut, maka ruang – tenaga – waktu merupakan unsur yang saling terjalin dalam penataan gerak kaitannya dengan wujud atau bentuk tari.

Ekspresi
Ekspresi di dalam gerak tari merupakan suatu daya ungkap dari pengalaman yang ada pada diri seseorang untuk dikomunikasikan kepada orang lain. Pada dasarnya faktor ekspresi ada pada setiap gerakan, sebab gerak dilakukan manusia untuk menyatakan perasaan atau pikirannya. Tubuh merupakan cermin jiwa manusia, dengan demikian gerak tubuh manusia merupakan ekspresi atau ungkapan dari gerakan jiwa pribadinya, yang dapat berupa akal, kehendak dan emosi. Artinya gerak fisik adalah efek normal pertama dari pengalaman mental atau emosional manusia. Dalam hal ini seorang seniman yang baik akan bekerja dengan landasan tersebut.

Ekspresi berkaitan dengan tenaga, sebab tenaga sebagai salah satu unsur gerak, merupakan daya penggerak dari dalam diri si penari dan berperan di dalam kualitas ekspresi yang menghasilkan suatu daya hidup atau greget dari sebuah tarian. Greget adalah istilah dalam tari Jawa yang artinya dorongan perasaan, desakan batin atau ekspresi jiwa seseorang dalam bentuk tari yang terkendali.

Dengan demikian ekspresi hal yang juga esensial dalam tari untuk memancarkan kekuatan serta pesan atau maksud yang ingin disampaikan dalam suatu bentuk tari, sehingga dapat dimengerti orang lain sebagai suatu komunikasi yang diungkapkan melalui gerak.








Unsur Pendukung Tari


Tari merupakan bentuk keindahan yang dinikmati dengan rasa, keindahan hadir sebagai suatu kepuasan, kebahagiaan dan harapan batin manusia. Kehadiran tari di hadapan penonton bukan hanya rangkaian gerak saja, melainkan dilengkapi dengan elemen-elemen pendukung agar penampilannya mempunyai daya tarik bagi penikmatnya.

Unsur pendukung/pelengkap dalam tari adalah elemen atau unsur-unsur yang mendukung pertunjukan atau pergelaran tari, antara lain : iringan tari (musik), tema,  tata rias dan tata busana, tempat pentas atau panggung, perlengkapan atau properti tari, serta tata suara dan tata cahaya.

a)    Iringan (musik)
Musik dan tari merupakan dua hal yang saling berhubungan, yang tidak dapat dipisahkan. Pada dasarnya bentuk musik iringan tari dapat dibedakan menjadi dua, yaitu musik internal dan eksternal. Disebut musik internal dalam iringan dalam teri tersebut bersumber atau berasal dari penarinya, seperti tepukan tangan, nyanyian, hentakan kaki, petikan jari. Adapun yang digolongkan sebagai musik eksternal adalah iringan tari tari yang bersumber dari luar penari, misalnya bunyi-bunyian dari benda yang dipukul, ditiup, digesek, dipetik dan lain-lain, serta yang berasal dari alat musik.

Fungsi musik dalam tari dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu 1). Sebagai pengiring, 2). Sebagai pemberi suasana, 3). Sebagai ilustrasi. Fungsi musik sebagai pengiring tari diartika sebagai peranan musik hanya untuk meniringi atau menunjang penampilan tari, sehingga kadang tidak ikut menentukan isi tarinya. Yang dikategorikan sebagi pengiring terdapat dalam tari Jawa misaslnya tari golek Ayun-ayun diiringi oleh gendhing ladrang Ayun-ayun, tari golek Sri rejeki diiringi gendhing ladrang Sri rejeki, dalam tari sunda tari kandagan diiringi musik Bendrong – waledan, demikian pula dengan tari-tari di daerah lain seperti tari gendhing Sriwijaya, tari Legong Lasem, Tari pasambahan dari Sumatra Barat dan sebagainya.

Fungsi musik sebagai pemberi suasana tari, musik ini sangat cocok bila untuk mengiringi drama tari, meskipun tidak menutup kemungkinan untuk mengiringi tari yang bukan drama tari. Mengapa fungsi musik sebagai pemberi suasana lebih cocok untuk mengiringi dramatari? Sebab dalam dramatari terdapat pembagian adegan atau mempunyai alur cerita yang masing-masing babak menggambarkan suasana yang berbeda. Namun jika musik sebagai pemberi suasana dipakai dalam satu tarian yang bukan dramatari, hendaknya musik senantiasa mengacu pada tema atau isi tarinya. Sedangkan fungsi musik sebagai ilustrasi adalah tarian yang menggunakan musik baik sebagai pengiring maupun pemberi suasana pada sat-saat tertentu saja tergantung kebutuhan garapan tari. Dengan katan lain, musik sebagai ilustrasi diperlukan hanya pada bagian-bagian tertentu saja dari keseluruhan sajian tari.


b)    Tata rias dan tata busana
Dalam satu sajian tari, tata rias merupakan hal yang amat penting, karena penonton biasanya memperhatika wajah penari sebelum menyaksikan tariannya, untuk mengetahui toko atau peran apa yang sedang ditarikan, kemungkinan juga untuk mengetahui siapa penarinya.. Fungsi tata rias di dalam tari pada dasarnya adalah mengubah karakter pribadi menjadi karakter tokoh yang dibawakan, serta untuk menambah daya tarik panampilan.Tata rias tari dipanggung berbeda dengan tata rias sehari-hari. Tata rias panggung biasanya lebih tebal karena jarak antara penari dan penonton agak berjauhan. Dalam tata rias panggung lebih menonjolkan garis-garis wajah agar terlihat lebih hidup. Sedangkan fungsi tata busana dalam tari adalah untuk mendukungntema atau isi tarian, dan untuk memperjelas peran dalam satu sajian tari. Tata busana di dalam tari juga mencerminkan identitas suatu daerah yang sekaligus menunjuk pada asal tarian tersebut. Tata busana dalam tari tidak hanya sekedar menutup tubuh semata,melainkan harus mendukung disain ruang pada saat meneri, oleh karena itu tata busana hendaknya mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut:
a.   Nyaman dipakai dan sedap dilihat penonton.
b.   Mempertimbangkan isi/tema sehingga menjadi satu kesatuan
c.    Tidak mengganggu gerak sehingga nyaman dipakai oleh penari.
d.  Keharmonisan dalam pemilihan warna

c)     Tempat pentas
Apapun bentuknya, suatu pertunjukan selalu memerlukan ruangan guna menyelenggarakan. Ruangan tempat pertunjukan dengan sebutan pentas, dapat berupa lapangan, pendapa, halaman pura atau gedung pertunjukan yang sering disebut dengan stage, yang disebut dengan pentas tertutup.
Pertunjukan tari tradisional di lingkungan rakyat biasanya dipentaskan di lapangan terbuka, seperti bentuk pertunjukan reog Ponorogo, Jathilan, tari-tarian di daerah pedalaman Kalimantan, Sulawesi, Papua dan sebagainya. Sedangkan di kalangan istana di jawa biasanya tari dipertunjukkan di pendapa yaitu suatu bangunan yang berbentuk joglo yang mempunyai 4 tiang penyangga atau saka guru. Pada tempat pertunjukan seperti ini biasanya penonton dapat menyksikan pertunjukan dari berbagai arah. Sedangkan tari yang dipentaskan di gedung pertunjukan hanya dapat dilihat dari satu arah penonton saja, misalnya di aula sekolah, dan sebagainya.

0 komentar:

Posting Komentar